Selasa , 24 Januari 2017
Home / Profil Inspiratif / Diterima Bidikmisi UGM, Dyah: Ini Keajaiban Tahajud
Dyah-diterima-bidikmisi-ugm
Dyah, mahasiswa bidikmisi UGM

Diterima Bidikmisi UGM, Dyah: Ini Keajaiban Tahajud

Edupost.id, Sleman – Hanya kuasa Tuhan yang layak menjadi jawaban, mengapa Dyah Utami Nugraheni, yang mengaku hanya memiliki nilai Ujian Nasionl (UN) tak terlampau tinggi berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM. Terlebih, ia pada akhirnya diterima melalui jalur Bidikmisi SNMPTN.

“Senang, tapi tak bisa digambarkan dengan kata-kata,” ujar Dyah ketika ditanya tentang perasaanya setelah berhasil diterima di UGM. Ketika edupost.id mengunjungi rumahnya, di Desa Nyamplung Kidul, Balecatur, Gamping, Sleman, DIY pada Jumat (24/6) malam, Dyah yang didampingi Ibunya, Ngatinem dan kakaknya, Praptono, tampak bersemangat mengisahkan keberhasilan dirinya.

“Dyah dari TK memang sudah berprestasi, selalu dapat nilai bagus,” ujar Ngatinem. Sejak masih duduk di SMPN 1 Godean Sleman, Dyah memang tergolong siswa berprestasi. Di SMP ini, Dyah selalu dapat peringkat pertama paralel. Di SMA, gadis berjilbab ini mengaku selau masuk 10 besar secara paralel.

Diakui Ngatinem, putrinya ini adalah seorang yang rajin dan penuh semangat dalam belajar. Tak perlu memaksa agar Dyah mau belajar, karena sudah dengan penuh kesadaran, gadis kelahiran Sleman 25 Mei 1997 ini selalu rajin belajar. “Saya salut dengan adik saya ini, tiap malam belajar. Kalau belajar selalu sampai tuntas,” imbuh Praptono, kakak lain bapak dari Dyah.

Menjadi dokter memang sudah menjadi cita-cita Dyah sejak masih di bangku SMPN 1 Godean. Keputusan memilih jurusan Pendidikan Dokter memang sebuah pilihan tepat untuk membuka jalan mengabdikan diri kepada masyarakat. Terlebih, dukungan keluarga sangatlah kuat. “Kalau anak saya jadi dokter kan seneng, bisa bantu keluarga dan masyarakat,” aku Ngatinem.

Sungguh berat ketika awal melangkahkan kaki menuju kursi kedokteran UGM. Dyah mengaku tak sepenuhnya yakin mampu bersaing berebut kursi bergengsi itu. Ia sadar, bukan hanya dirinya yang mengincar kursi itu, tapi ada ribuan pelajar lain dari seluruh Indonesia. “Ini keajaiban Sholat Tahajud,” ujar Praptono menanggapi keberhasilan Dyah diterima di UGM.

Biaya mahal kuliah di kedokteran UGM juga menjadi bayangan menakutkan yang pernah menghantuinya. Bagi seorang anak yatim yang bukan termasuk orang berada seperti dirinya, biaya mahal memang sangat menghantui.

Sejak ayahnya meninggal pada 2007 silam, ibunya mengais rejeki dengan membuat makanan kecil yang selanjutnya ia titipkan di warung. Tak seberapa penghasilan dari usaha ibunya ini. Beruntung, sebagian kebutuhan hidupnya ditopang oleh kakanya yang berbeda ayah. Dulu, ibunda Dyah memang menikah dengan seorang duda beranak dua. Dari pernikahan itu, lahirlah Dyah.

Berhasil diterima pada jalur bidikmisi memang menjadi kebahagiaan dan karunia amat besar dari Sang Maha Kuasa. Beasiswa bidikmisi sangat dibutuhkan dalam membiayai pendidikan di Fakultas Kedokteran. “Kalau tak diterima bidikmisi, saya juga tak akan mampu membantu biaya kuliahnya. Alhamdulilah, saya sangat bersyukur,” ujar Praptono yang diamini oleh ibunya.

Keberhasilan Dyah menjadi salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM meski berasal dari keluarga kurang mampu layak menjadi inspirasi dan motivasi. Meski hanya orang biasa, gadis ini layak diapresiasi, terlebih ia memiliki cita-cita mulia, seperti katanya, “Saya ingin mengabdikan diri ke masyarakat.” (Andi)

Check Also

Universitas Gadjah Mada (UGM)

Dosen UGM Gemar Teliti Wayang Kulit Purwa

Edupost.ID- Indonesia memiliki beragam jenis wayang yang tersebar luas di berbagai wilayah nusantara. Warisan budaya …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *