Sabtu , 25 November 2017
Home / Profil Inspiratif / Habiatul, Tukang Cuci Bus yang Semangat Sekolah
Habiatul, Tukang Cuci Bus yang Semangat Sekolah
Habiatul, Tukang Cuci Bus yang Semangat Sekolah

Habiatul, Tukang Cuci Bus yang Semangat Sekolah

Edupost.id – Meski hanya bekerja sebagai tukang cuci bus dan juru parkir di terminal Kota Cilegon Banten, Habiatul Hidayatullah tak pernah putus semangat untuk melanjutkan pendidikan. Semangatnya yang membara ini akhirnya menjadikannya terpilih menjadi siswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).

“Saya mencuci bus di terminal, atau jadi tukang parkir,” ujar siswa program kesetaraan Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM ) Melati Cibeber, Cilegon itu, dilansir dari laman Kemdikbud.

Meski terlahir dari keluarga tak berkecukupan, semangat Habiatul yang membara dalam menempuh pendidikan layak diacungi jempol. Sebenarnya, hampir saja ia memutuskan berhenti sekolah lantaran tak ada biaya.

Setamat dari SMP Al- Ishlah Cilegon tahun 2015, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena sadar akan keterbatasan ekonomi keluarganya. Ayah Habiatul seorang buruh pabrik yang penghasilannya tidak seberapa, sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai buruh sawah.

Untungnya sang kakak tetap mendorong Habiatul untuk sekolah. Sang kakak yang seorang pengajar di PKBM, menganjurkannya untuk melanjutkan pendidikan Paket C di PKBM tempatnya mengajar. Sejak saat itulah, ia melanjutkan pendidikan di PKBM Melati Cibeber, Cilegon.

“Jadi kakak saya yang ngurusin semuanya. Saya tinggal masuk aja. Karena ekonomi keluarga saya tidak memadai untuk masuk ke SMA,” ujar Habiatul yang tahun depan akan menghadapi ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) itu.

Habiatul sadar, keterbatasan ekonomi yang dimilikinya tidak boleh menghalanginya untuk bersekolah dan bercita – cita. Karena itulah, sambil bekerja, iapun tetap giat melanjutkan pendidikannya di PKBM.

Di PKBM Habiatul hanya mengambil kelas belajar hari Sabtu. Sementara hari Senin hingga Jumat, ia tetap bekerja di terminal menjadi tenaga pencuci bus dan juru parkir. Tanpa menyebutkan berapa penghasilannya, ia mengaku uang yang diterimanya cukup untuk jajan dan membantu kedua orang tuanya.

Belajar di PKBM memang berbeda dengan sistem belajar mengajar di sekolah reguler. Habiatul menjelaskan, ia dan teman – temannya di PKBM sebagian besar memang sudah bekerja, sehingga mereka hanya belajar di PKBM seminggu sekali, yakni pada hari Sabtu atau Minggu. “Yang jelas saya ingin jadi orang sukses, ” katanya tegas ketika ditanya mengenai cita- citanya.

Habiatul ternyata baru tahun ini terdaftar sebagai penerima KIP. Hebatnya, penyuka pelajaran IPA itu berniat memberikan dana KIP yang diterimanya kepada orang tua. Sebagai penerima KIP dari jenjang pendidikan setara SMA/ SMK, Habiatul berhak atas bantuan pendidikan sebesar Rp1 juta/tahun dari pemerintah Indonesia. (Andi)

Check Also

Kartu Indonesia Pintar

Bagikan KIP, Jokowi : Anak-anak di Buleleng Pintar-pintar

Edupost.id – Presiden RI Joko Widodo menyampaikan, dua siswa asal Buleleng yang meraih prestasi di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *