Selasa , 17 Oktober 2017
Home / Profil Inspiratif / Ki Hajar Dewantara Jadikan Pendidikan sebagai Senjata Perjuangan

Ki Hajar Dewantara Jadikan Pendidikan sebagai Senjata Perjuangan

Edupost.ID – Pengasingan yang dialami beberapa pahlawan di Indonesia memberikan banyak hikmah tersendiri. Di zaman penjajahan Belanda, sering terjadi internering atau hukum buang pada orang-orang yang dianggap membahayakan ‘posisi’ Belanda di Indonesia. Ini juga yang dialami sosok Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Pengasingan telah mengubahnya dari radikalis menjadi akademisi.

Peristiwa ini terjadi ketika namanya berganti dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Usianya menginjak 40 tahun,  merupakan usia matang manusia. Banyak orang mencetak sejarah ketika berusia 40 tahun.

Dalam buku Biografi Ki Hajar Dewantara disebutkan bahwa Suwardi muda memiliki jiwa radikal, sampai-sampai ia diasingkan ke Belanda. Suwardi yang merupakan pangeran keturunan Sri Paku Alam III ini, mulai berontak ketika masuk sekolah kedokteran (STOVIA). Sekolah itu mendiskriminasi pribumi.

Puncaknya ketika Belanda hendak menggelar perayaan peringatan kemerdekaan (bebasnya Belanda dari Perancis). Suwardi membuat tulisan yang berjudul Als ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan itu menyindir Belanda habis-habisan.

Seperti remaja yang menemukan passion, Suwardi berubah haluan. Untuk meraih cita-cita luhurnya, ia tak lagi menggunakan kekuatan politik. Suwardi kemudian memilih untuk menggunakan pendidikan sebagai senjatanya. Ia menemukan jalan yang bisa digelutinya dengan sepenuh hati.

Pengasingannya ke Belanda, ia gunakan untuk mempelajari pendidikan di ‘Dunia Barat’. Beberapa tokoh pendidikan dunia menginspirasinya, antara lain; Frobel dan Montessori. Selain itu, ia juga tertarik dengan pergerakan pendidikan di India, Santiniketan, yang dilakukan oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh dari tokoh inilah yang kemudian diterapkannya ketika di Indonesia.

Sekembalinya ke tanah air, Ki Hajar Dewantara membuat sebuah sekolah bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa), 3 Juli 1922. Ki Hajar memiliki konsep pendidikan yang benar-benar pribumi, yakni non-pemerintah dan non-islam. Konsep pendidikan seperti itu berarti pendidikan yang memadukan pendidikan gaya Eropa yang modern dengan seni-seni Jawa tradisional.

Selain itu ia menyumbang berbagai pemikiran brilian tentang pendidikan. Pemikiran yang paling masyhur adalah Metode Among. Ada tiga peran kepemimpinan pendidik, yakni Tut Wuri Handayani (guru hanya membimbing dari belakang dan mengingatkan jika tindakan siswa membahayakan), Ing Madya Mangun Karsa (membangkitkan semangat dan memberikan motivasi), dan Ing Ngarsa Sung Tuladha (selalu menjadi contoh dalam perilaku dan ucapan).

Meski namanya kini sudah tidak bergaung sekeras dahulu, namun jejak-jejak pemikirannya menjadi khasanah pengetahuan berharga bagi Bangsa Indonesia. Tak cukup dengan itu, masyarakat Indonesia harusnya bisa menerapkan nilai-nilai ini untuk membangun pendidikan yang lebih baik. (Nurfi)

Check Also

Monica, Siswa MTs Yapi Sleman

Monica, Siswa MTs Yapi Sleman Jadi Pembicara di Forum WHO

Edupost.id – Seorang bocah perempuan bernama Monica beberapa hari ini mendadak viral di dunia maya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *