Minggu , 24 September 2017
Home / Profil Inspiratif / Muhsin Kalida, Pegiat Gerakan Membaca

Muhsin Kalida, Pegiat Gerakan Membaca

Edupost.ID, Sleman – Berbicara mengenai Taman Bacaan bukanlah hal baru bagi Muhsin Kalida. Pria kelahiran Tulungagung, 3 April 1970 ini memang dikenal sebagai pegiat literasi di DIY. Kesibukanya sebagai dosen tetap di Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak menyurutkan semangatnya untuk mengampanyekan gemar membaca sekaligus memberdayakan masyarakat. Aktivitasnya yang telah malang melintang di dunia literasi membuat putra ketiga dari pasangan H. Mustamar dan Hj. Si’in Imroah ini dipercaya menjadi ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) DIY.

Ketika Edupost.iD berkunjung ke rumahnya di Dusun Nologaten, Gang Selada, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Muhsin dengan ramah bercerita mengenai aktivitasnya di dunia literasi. Baginya, membangun gerakan literasi untuk menumbuhkan minat baca sekaligus memberdayakan masyarakat sesungguhnya bisa dimulai dari hal sederhana. Dimulai dari menyulap tempat pembuangan sampah di sekitar permukiman warga menjadi Taman Bacaan Masyarakat  (TBM), yang kemudian dikenal dengan nama TBM Cakruk Pintar. Kehadiran TBM Cakruk Pintar lambat laun mampu mengubah kebiasaan masyarakat yang awalnya tak banyak bersentuhan dengan buku, jadi mulai suka membaca.

Muhsin mendesain TBM Cakruk Pintar agar membuat pengunjung merasa nyaman. Tak diwajibkan berpakaian rapi, untuk bisa datang membaca dan meminjam buku di TBM ini. Ibu-ibu yang baru pulang dari pasar, bapak-bapak yang baru pulang dari sawah, atau – anak-anak yang baru pulang dari sekolah bisa langsung datang dan membaca buku. Bahkan, mereka dapat memilih sendiri buku yang dibutuhkan, kemudian mencatatnya pada buku peminjaman secara mandiri. Tak ada petugas khusus yang melayani peminjaman buku.

Pada awalnya ia membangun TBM, tak sedikit penolakan datang dari warga sekitar. “Ketika saya ditolak, lokasi bangunan dilempari oleh warga yang tidak suka, saya menikmati saja tantangan itu,” ujar ayah dari Aulia Aziz (15) dan Aufa Nuuruz Zahway (8) ini.

Bagaimanapun beratnya tantangan yang harus dilalui, Muhsin selalu melewatinya tanpa berputus asa. “Pilihan saya sebagai pegiat literasi hanya ada dua, senang dan senang banget,” ujar Muhsin dengan senyuman ramah. Ketekunannya selama ini, akhirnya telah berbuah manis. Kini, dukungan terhadap TBM Cakruk Pintar mengalir kuat. (Andi)

Check Also

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Mahasiswa UNY Ciptakan Media Pembelajaran Mitigasi Anak SD

Edupost.id – Tim mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berhasil menciptakan inovasi media pembelajaran mitigasi bencana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *