Jumat , 20 Januari 2017
Home / Profil Inspiratif / Munjid, Kepala Sekolah Berprestasi yang Rajin Mengasah Diri

Munjid, Kepala Sekolah Berprestasi yang Rajin Mengasah Diri

Edupost.ID, Yogyakarta – Pintu ruangan itu sering dibuka dan ditutup. Padahal itu adalah ruangan ber-AC. Sebuah ruang yang nyaman dan layak bagi seorang kepala sekolah. Terbuka dan tertutupnya ruangan itu dikarenakan banyak orang yang ingin bertemu dengannya. Sosok cerdas, berkacamata, murah senyum, dan cepat bicaranya.

Munjid Nur Alamsyah. Beliau adalah seorang kepala sekolah berprestasi tahun 2011. Ketika dinobatkan sebagai kepala sekolah berprestasi, Munjid adalah kepala sekolah di SMAN 5 Yogyakarta. Setelah itu beliau dipindah ke SMAN 8 Yogyakarta. Awalnya beliau mengajar di sebuah sekolah di Samigaluh, Kulon Progo.

Prestasinya banyak. Beliau maju dari tingkat kota, provinsi, hingga akhirnya nasional. Ada serangkaian tes yang harus beliau lewati untuk menjadi kepala sekolah berprestasi. Tapi itu tak membuatnya lesu, justru bersemangat, “Lomba, di sana dapat makanan, ruang ber-AC,” kata Munjid kemudian diiringi tawa.

Munjid menempatkan dirinya sebagai orang yang aktif. Beliau rajin mengikuti diklat, menjadi narasumber, mengikuti workshop, dan sering ikut lomba. Prestasi yang didapat siswa-siswi, guru, dan sekolah turut memperbesar kesempatannya menjadi kepala sekolah berprestasi.

Setelah menjadi kepala sekolah berprestasi tahun 2011, tahun ini Munjid mengajukan diri lagi. Pemilihan kepala sekolah berprestasi hanya setiap 4 tahun sekali. “Sampaikan yang benar saja dari orang lain. Jangan sampaikan kesalahan orang lain,” begitu prinsip Munjid.

Ia memberi nasihat, kelak kita akan mati. Jika kita membeberkan kesalahan orang lain, maka orang lain tidak akan suka. Bayangkan, jika banyak orang telah kita beberkan kesalahannya. Di akhirat, pahala kita akan habis untuk membayar keberatan orang-orang yang telah kita sakiti. Jadi lebih baik orang lain tahu kesalahan orang, bukan dari mulut kita.

Serba simpel, begitulah sosok kepala sekolah yang sudah mengajar sejak tahun 1987. Lakukan hal yang terjangkau. Lakukan hal yang sekiranya bisa dilakukan.

Kepala sekolah yang rumahnya cukup jauh ini, di Piyungan, punya motivasi ingin mengubah sekolah menjadi lebih baik dengan menjadi pemimpin. Karena jika hanya menjadi guru, beliau tidak bisa berbuat banyak. Ide-idenya hanya sebatas usulan.

Ada pengalaman berkesan beliau dalam dunia pendidikan. Saat itu tahun 2006, Munjid berkesempatan study banding ke Australia. Beliau melihat di sana anak-anaknya lebih rapi, tertib, dan disiplin dibanding di sini. Hal itu ingin beliau terapkan di sekolahnya.

Ada yang unik dari SMAN 8 Yogyakarta. Sekolah yang terkenal memajukan budaya ber-Bahasa Inggris ini, tidak mengizinkan siswa yang terlambat untuk mengikuti mata pelajaran pertama. Sebagai gantinya, siswa diminta menulis alasan keterlambatannya dengan Bahasa Inggris. Setelah itu dipresentasikan, dan hukuman yang edukatif ini efektif membuat siswa jera.

Selain itu, ada program-program lain di SMAN 8 Yogyakarta, antara lain ‘Semutlis’, ‘Selamat Pagi’, dan ‘Jumat Pagi’. ‘Semutlis’ adalah program kebersihan. Sedangkan ‘Selamat Pagi’ bentuknya berupa siswa-siswi menjabat tangan guru ketika akan memasuki sekolah.

Sementara, program ‘Jumat Pagi’ yang baru ada di era kepemimpinan Munjid ini, setiap Jumat pagi siswa membaca kitab. Setiap siswa diharuskan membaca kitab, sesuai agama masing-masing tentunya dan para guru yang membimbing.

Kadang hal yang baik perlu dipaksakan agar menjadi kebiasaan, demikian prinsip Munjid. (Nurfi)

Check Also

guru-mengajar

Kota Yogyakarta Belum Terapkan Permendiknas Tentang Sumbangan

Edupost.ID – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta, Edy Hery Suasana menyatakan belum akan memberlakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *