Selasa , 24 Januari 2017
Home / Profil Inspiratif / Pak Soleh, Guru Tunanetra di Kelas Tunanetra SLB Sejahtera Bogor

Pak Soleh, Guru Tunanetra di Kelas Tunanetra SLB Sejahtera Bogor

Edupost.ID – Menjadi guru di kelas tunanetra Sekolah Luar Biasa (SLB) Sejahtera, Bogor bukanlah cita-cita awal Muhammad Soleh. Pria 36 tahun ini adalah seorang tunanetra yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan para penyandang disabilitas.

Pak Soleh, panggilan akrabnya, sudah 6 tahun mengajar di SLB Sejahtera. Selama 7 tahun pula, Guru kelahiran Jakarta ini mengandalkan jasa ojek untuk mengantarnya dari rumah di Cinangneng, Bogor menuju sekolahnya, begitu pun ketika ia hendak kembali ke rumah.

Awalnya, Pak Soleh tidak pernah menyangka bahwa akan terjun ke dalam dunia pendidikan. Pak Soleh adalah seorang sarjana lulusan Perbandingan Agama, Fakultas Usuludin, Universitas Islam Bandung (Unisba). Ia menjalani masa kuliah selama empat setengah tahun.

“Waktu zaman-zaman kepala sekolah yang lama, Pak Deden saya memang ditugaskan sebagai guru kelas. Saya juga bingung belum ada gambaran sama sekali karena saya latarbelakangnya bukan dari pendidikan luar biasa atau pendidikan umum,” ujarnya kepada Edupost.ID.

Pak Soleh menerangkan, saat mengajar di SLB ia hanya bermodalkan Akta 4. Setiap satu atau dua tahun sekali para penyandang tunanetra yang tergabung dalam organisasi Ikatan mpi. mendapatkan tempat dari Kemenang untuk posisi guru. Oleh karena itu, ia terpaksa mendapatkan Akta 4 karena terbatasnya ruang lapangan pekerjaan bagi penyandangn tunanetra.

“Sebuah pertarungan yang besar waktu itu antara idealisme melawan kepentingan masa depan. Kalau saya tidak ambil pendaftaran CPNS sekarang ya kapan lagi,” terangnya.

Meskipun awalnya ia sempat merasa kecewa kenapa Kemenang memberikan posisi sebagai guru bukan sebagai staff Bimas Islam, Kerukunan Antara Umat Beragama, ia tetap bersyukur karena bisa bekerja sebagai guru di SLB Sejahtera. Pak Soleh merasa senang bahwa ia bisa menghasilkan nafkah sendiri.

“Alhamdulillah saya sudah PNS, punya gaji dan sudah 6 tahun. Seneng juga waktu bapak saya beli kue lapis. Jadi waktu makan saya bilang ‘aduh enak bener ini kue lapis hasil kerja gua nih’,” ujarnya.

Besar harapan Pak Soleh kepada Kemenang untuk masa depan para penyandang tunanetra. Menurutnya, pemerintah khususnya dibidang ketenagakerjaan harus bisa mempermudah lapangan kerja bagi para penyandang disabilitas.

“Namun, ada hal yang perlu diperhatikan oleh Kemenang yaitu membuka lapangan kerja yang sesuai dengan latarbelakang pendidikan dan seharusnya juga tidak perlu dipersulit dalam menempuh pendidikan,” tambahnya. (Nisa)

Check Also

Indonesia Bergejolak, BEM SI Gelar Musyawarah Nasional

Indonesia Bergejolak, BEM SI Gelar Musyawarah Nasional

Edupost.ID – Pasca kisruh dan mandeknya tuntutan aksi bela rakyat 121 yang diselenggarakan di 19 …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *