Rabu , 13 Desember 2017
Home / Profil Inspiratif / Sekolah Kolong Jembatan Ini, Siswanya Jadi TNI dan Presenter TV

Sekolah Kolong Jembatan Ini, Siswanya Jadi TNI dan Presenter TV

Jakarta- Perjuangan ibu kembar penggagas Sekolah Darurat Kartini, Sri Rosiati (Rossy) dan Sri Irianingsih (Ryan) ini memang patut diteladani. Awalnya mereka hanya lewat di kawasan Pluit, Jakarta Utara, mereka miris melihat kehidupan warga sekitar yang kumuh dan belum ada sekolah ataupun tempat belajar.

“Tanpa pikir panjang, keesokannya kita berdua datang dengan membawa buku, pensil, pulpen, makanan dan susu. Kita berdua langsung mengajar,” cerita keduanya.

Sekolah ini letaknya di Kompleks Pergudangan Kampung Bandan, Jakarta Utara. Sekolah petak di tengah perkampungan kumuh di bawah jembatan layang itu seluas 40 meter persegi. Terlihat sesak sebab dipadati sekitar 100 anak yang berasal dari warga sekitar.

Semua kegiatan belajar menjadi satu, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA. Pasangan kembar kelahiran Februari 1950 itu menawarkan diri untuk mengajar sendiri dibantu teman dan anak-anaknya.

Untuk menarik minat anak-anak jalanan, Ibu Rosi tidak langsung mengajarkan materi pelajaran resmi. Ia melihat apa saja yang disukai dan dibutuhkan mereka. Ternyata, mereka suka melakukan sesuatu yang bisa membantu orangtuanya yakni keterampilan dan pembelajaran tentang kehidupan.

Setelah siswa mulai betah, pelajaran formal mulai diajarkan. Seiring dengan perjalanan waktu, sekolah ini mulai menyesuaikan diri dengan kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bahkan, pada tahun 2000, siswa sekolah tersebut mulai bisa mengikuti ujian nasional (UN).

Ibu Rosi mengatakan, semua biaya itu ditanggungnya sendiri. Sejak memulai tahun 1996 hingga saat ini, Ibu Rosi mengaku tidak pernah memperoleh bantuan dari pemerintah. “Saya capek berharap dari pemerintah,” tuturnya.

Dari sekolahnya ini telah banyak siswa yang berhasil. “Beberapa di antaranya ada yang menjadi anggota Polri dan TNI. Bahkan ada yang jadi presenter di salah satu stasiun televisi swasta,” ucapnya.

Dia menceritakan, selain tidak pernah memperoleh bantuan, dia malah pernah berbenturan dengan pemerintah wilayah. Wali Kota Jakarta Utara pernah akan menggusur sekolah mereka pada 2007. “Mungkin dia (Wali Kota–Red) malu kalau di lingkungannya sesungguhnya masih ada anak yang belum memperoleh pendidikan yang layak,” ujarnya.

Walau tanpa dukungan dari pemerintah, hingga saat ini mereka telah memiliki 76 sarana pendidikan di seluruh Indonesia. Sekolah-sekolah itu difokuskannya di pedalaman, daerah terpencil, pulau-pulau terluar, serta lingkungan kumuh di kota-kota besar. (Edu)

Check Also

Tahun 2018 Semua Sekolah Harus Terapkan Kurikulum 2013

Edupost.id – Pada tahun 2018 semua sekolah di Indonesia sudah harus menerapkan Kurikulum 2013. Hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *