Senin , 27 Maret 2017
Home / Profil Inspiratif / Sosok di Balik Peraih Nilai UN SMP Tertinggi DIY 2015

Sosok di Balik Peraih Nilai UN SMP Tertinggi DIY 2015

Edupost.ID — Mellina Abrianti mendapat nilai mendekati sempurna di Ujian Nasional SMP Tahun 2015. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ia peraih UN SMP tertinggi. Nilainya maksimal yakni 100 pada tiap mata pelajaran yang diujikan, kecuali pada Bahasa Indonesia yang hanya salah pada satu nomor. Sewaktu Try Out, ia sempat meraih peringkat kedua terbaik se-Gunung Kidul. Mantan peserta Olimpiade Sains Nasional ini bahkan sudah terlihat prestatif sejak duduk di bangku SD.

Di balik sosok pelajar berprestasi ini ada orang-orang hebat di belakangnya. Sunaryo, ayah Lina ternyata mengajarinya membaca dan pengetahuan lainnya. Sehingga Lina sudah bisa membaca sejak TK. Ibunya merupakan sosok penyayang sekaligus pendorong semangat belajar Lina. Sugiyanti namanya. Ada juga kakaknya yang menjadi rujukan jika Lina menemui kesulitan pada mata pelajaran tertentu, meski ia kuliah di luar kota.

Mereka tinggal di Piyaman, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sekolah Lina yaitu SMPN 1 Wonosari letaknya cukup jauh dari rumahnya. Jangan bayangkan rumah Lina serba mewah dan berfasilitas lengkap. Rumahnya sederhana seperti Rumah Joglo lengkap dengan tiang-tiang khasnya. Dindingnya tidak bersemen, sehingga bisa terlihat deretan batu batanya. Terdapat banyak sawah dan hutan sepanjang perjalanan menuju ke sana. Suara-suara serangga masih dapat terdengar di sana. Aspal yang ada tak halus. Jika tak hati-hati bisa terpeleset.

Sugiyanti menjelaskan bahwa ia bukan orang berada, hanya pengajaran yang bisa ia beri. Tidak bisa memberi apa-apa untuk anak. “Mung sagede ngonten niku,” ujar Sugiyanti sambil tertawa yang dalam Bahasa Indonesia berarti hanya bisa seperti itu. Diakuinya cukup berat membiayai anak hingga lulus sekolah. Ayah Lina bekerja di sebuah Koperasi simpan pinjam di Klaten dengan gaji yang hanya kurang lebih 1 juta per bulan. Sedangkan ibu merupakan Ibu Rumah Tangga. Akan tetapi kedua orang tua ini berusaha, salah satunya dengan aktif mencari beasiswa.

Usaha mereka bisa dibilang berhasil. Lina dan kedua saudaranya dapat mengenyam pendidikan dan berprestasi. Meski ibu Lina tidak pernah mematok target nilai, namun Lina dapat meraih nilai yang nyaris sempurna. Selain itu karena Lina berbakti pada orang tua. Lina bukan tipe anak yang suka bermain atau pergi jauh dari rumah. Jika tidak diizinkan pergi juga Lina tidak akan pergi. “Nek mboten entuk saka wong tuwa mboten wantun,” demikian kata Sugiyanti yang berarti jika tidak mendapat izin dari orang tua tidak berani (melakukan).

Tentang belajar, Lina tidak memforsir dirinya. Kadang Lina belajar sambil nonton televisi. Bahkan ayah dan kakaknya sempat menegur Lina agar membuka bukunya, lantaran jarang terlihat membuka buku. Namun, pada dasarnya Lina merupakan seorang anak yang sudah bisa memanajemen waktu. Ia tahu kapan harus belajar, kapan bermain.

Ibu Lina berujar, meski prestasi Lina sudah menggunung, ia tetap berharap Lina dapat mempertahankan prestasinya.  (Nurfi)

Check Also

ujian nasional

UN Tetap Penentu Kelulusan Peserta Pendidikan Kesetaraan

Edupost.id – Ujian Nasional yang akan dilaksanakan tahun ini tetap menjadi penentu kelulusan bagi peserta …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *