Rabu , 18 Januari 2017
Home / Psikologi / Ini Cara Bermain yang Efektif untuk Asah Otak Anak

Ini Cara Bermain yang Efektif untuk Asah Otak Anak

Edupost.ID – Belajar sambil bermain merupakan cara yang efektif untuk merangsang kerja otak anak. Hal ini seperti yang disampaikan Nurbiana Dhieni, Ketua Studi Pendidikan Guru PAUD Universitas Negeri Jakarta (JCC) di Jakarta Convention Center (JCC) beberapa waktu lalu. Nurbiana berbagi ide untuk orangtua dan guru bagaimana cara bermain yang efektif untuk mengasah otak anak.

Peserta yang sebagian besar anggota PGRI se-Jabodetabek sengaja hadir untuk mencari jawaban dari permasalahan yang sering muncul di kelas. Masalah-masalah itu meliputi anak yang hyperactive, kurang berprestasi, nakal, pemalas, penyendiri karena sering dibully dan lain-lain.

Untuk setiap permasalahan tersebut, Ketua Bidang Studi UNJ ini punya cara khusus. Jangan pernah mengajarkan anak rasa takut. Anak yang sering ditakuti akan berdampak buruk di kelas. Contohnya “Jangan berlarian, nanti kamu menabrak meja” atau “Jangan naik ke atas bangku, nanti kamu terluka”. Akibat dari kalimat itu adalah anak akan dibully oleh teman-temannya di kelas. Anak-anak sebenarnya mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa. Orang dewasa hanya perlu mengawasi dan mengarahkan anak tersebut.

Selain itu, para guru harus memahami betul karakter setiap anak didiknya. Anak-anak yang nakal dan malas jangan diberi label. Seperti “Kamu bodoh” atau “Kamu nakal”, pemberian kata-kata negatif pada anak akan mempengaruhi kejiwaan mereka dan akan tertanam di kepala anak bahwa mereka bodoh dan nakal. Sehingga mereka yang sebenarnya pintar akan  merasa dirinya bodoh dan akhirnya mereka tidak mau belajar atau menyendiri di kelas. Berikan mereka kata-kata yang positif dan arahkan mereka.

Menghadapi anak yang hyperactive,  kita perlu tahu bahwa mereka lebih senang melakukan aktifitas kognitif daripada harus berkutat dengan kertas dan pensil. Belajar dengan kertas dan pensil 5-10 menit akan membuat anak cepat bosan. Oleh karena itu berikan mereka aktifitas.

Nurbiana menambahkan, beberapa anak tidak suka mendengarkan gurunya terlalu lama bicara dan lebih suka melakukan sebuah aktifitas. Misalnya “Hari ini kita belajar bermain di sentra balok, seni dan bahasa”. Untuk setiap sentra sebaiknya diberikan masing-masing tiga aktifitas agar otak anak terus bekerja sehingga mereka juga bisa mengekpresikan diri. Cara ini lebih menyenangkan karena belajar sambil bermain merupakan cara yang paling efektif bagi anak di kelas. (Nisa)

Check Also

SBMPTN

Pendaftaran Bidikmisi 2017 Sudah Dibuka

Edupost.ID – Proses pendaftaran Bidikmisi 2017 mulai dibuka. Bidikmisi merupakan program bantuan biaya pendidikan bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *