Jumat , 24 November 2017
Home / Sainstek / Mengenal Spesies Baru, Anggrek Hantu Asal Pulau Jawa
Mengenal Spesies Baru, Anggrek Hantu Asal Pulau Jawa
Mengenal Spesies Baru, Anggrek Hantu Asal Pulau Jawa

Mengenal Spesies Baru, Anggrek Hantu Asal Pulau Jawa

Edupost.id – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Destario Metusala bersama rekannya belum lama ini menemukan spesies baru anggrek yang dinamai  Gastrodia bambu. Tanaman yang berasal dari Pulau Jawa ini merupakan kelompok anggrek holomikotropik atau kerap disebut anggrek hantu.

Anggrek hantu merupakan tumbuhan yang tidak berklorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis, namun tidak bersifat parasit. Oleh karena itu, seluruh daur hidupnya menggantungkan suplai nutrisi organik melalui simbiosis dengan jamur mikoriza.

Anggrek kelompok holomikotropik ini umumnya hanya muncul pada satu periode pendek (2-4 minggu) dalam satu tahun. Perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah, kemudian setelah 1-2 minggu perbungaan akan layu busuk dan lenyap.

Kombinasi warna bunga genus Gastrodia pun tidak pernah mencolok, umumnya berkisar pada putih, kekuningan, hingga kecoklatan. “Terlebih anggrek ini menyukai habitat yang gelap, lembab, dan selalu berdekatan dengan rumpun bambu lebat yang sudah tua. Tidak mengherankan apabila spesies ini memiliki kesan konotasi ‘angker’,” kata Destario belum lama ini.

Tanaman ini diduga memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Anggrek ini sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan juga perubahan pada media tumbuhnya.

Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm. Bunga didominasi warna coklat gelap dengan bagian bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga. Pada satu perbungaan dapat menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Bunga menghasilkan aroma ikan busuk untuk mengundang serangga polinator. Perbungaan muncul dari tanah berseresah di bawah rumpun-rumpun bambu tua pada ketinggian 800 – 900 m dpl. (LIPI/ IK-SS)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *