Senin , 5 Desember 2016
Home / Uncategorized / IPB Buat Inovasi Cookies Sajo Bagi Balita
Institut Pertanian Bogor (IPB)
Institut Pertanian Bogor (IPB)

IPB Buat Inovasi Cookies Sajo Bagi Balita

Edupost.ID- Mahasiswa Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB), Nina Dwinova, Mardita Setia, dan Imam Safii menawarkan Cookies Sajo sebagai alternatif Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk Bayi di bawah dua tahun (Baduta). Cookies Sajo merupakan makanan yang berbahan dasar tepung sagu, dengan penambahan kacang hijau dan diperkaya palm oil.

Berkat inovasi ini, mereka berhasil meraih juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) dalam kegiatan Expo 6 di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, beberapa pekan lalu.

Keunggulan produk ini adalah, penggunaan minyak sawit merah yang mengandung vitamin A. Dimana saat ini pemerintah sibuk memfortifikasi minyak goreng dengan vitamin A. Mardita mengatakan, Vitamin A ialah salahsatu zat yang diperlukan untuk meningkatkan penglihatan balita. “Red pal, oil mengandung banyak pro vitamin A yang tinggi yaitu 150-300 kali retinol ekuivalen dibandingkan wortel. Vitamin A salahsatu zat gizi mikro yang sangat dibutuhkan terkait penglihatan dan imunitas tubuh,” ujar Mardita.

Ide yang berawal dari keinginan meningkatkan status gizi baduta di Indonesia, karena fenomena gizi merupakan indikator masa depan bangsa semakin menurun. Salahsatunya bisa diatasi dengan peningkatan konsumsi pangan dalam bentuk MP-ASI yang memanfaatkan kacang hijau, sagu, dan kelapa sawit.

Proses pembuatan Sajo terdiri dari beberapa tahap, yaitu penimbangan, pencampuran, pencetakan adonan, pemanggangan adonan di suhu 160% C selama 15 menit, serta proses pendinginan kue dan pengemasan.

Unutuk menentukan formula yang tepat, para mahasiswa melakukan uji kesukaan dengan organoleptik berupa hedonik pada 15 panelis semi terlatih dan penambahan kacang hijau sebanyak 15 persen total tepung. Sajo diperuntukan bagi baduta usia 7 sampai 23 bulan, dengan penggunaan yang berbeda mengikuti perkembangan usia.

Sedangkan bagi baduta usia 12-23 bulan, dapat mencapurkan dengan air hangat atau langsung mengkonsumsi. Selain bermanfaat bagi baduta, sajo dapat memberikan nilai tambah kesejahteraan bagi petani lokal Indonesia serta melatih gerak tangan baduta.

“Kami berharap produk ini bisa diproduksi dalam skala luas untuk baduta di Indonesia, khususnya di bagian tengah dan timur Indonesia dengan prevalensi malgizi yang sangat tinggi,” pungkasnya. (UI/Inan)

 

Check Also

Doktor UI Ciptakan Permainan Android Untuk Mengatasi Diare

Doktor UI Ciptakan Game Untuk Mengatasi Diare

Edupost.id – Arbianingsih, fokter ke 49 dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia FIK UI menciptakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *