Senin , 16 September 2019

Recent Posts

Recent Posts

Recent Posts

Betulkah Anak Pertama Lebih Pintar daripada Adiknya ?

Edupost.id – Kabar gembira bagi Anda yang termasuk anak sulung. Riset terbaru menunjukkan bahwa anak sulung kemungkinan besar mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih baik daripada adik-adiknya. Benarkah demikian?

Dilansir dari Independent, riset yang dilakukan oleh peneliti dari University of Houston, University of New South Wales, dan University of Sheffield. Peneliti menemukan adanya hubungan negatif yang kuat antara urutan kelahiran dan hasil kognitif anak-anak. Menurut para, peneliti ada efek yang sangat besar dari urutan kelahiran ini. Jadi, semakin banyak jumlah kakak yang kita miliki, kita cenderung memiliki kemampuan akademik yang lebih rendah.

Hasil riset membuktikan, anak sulung cenderung lebih percaya diri dalam kecerdasan mereka. Sementara itu, para adik cenderung lebih merasa minder dengan kemampuan akademiknya. Periset  menemukan efek urutan kelahiran pada tes kognitif yang lebih besar ketika kemampuan matematika tidak disertakan dalam pengujian.

Peneliti menilai, hal ini terjadi karena peran orangtua yang begitu besar pada kemampuan membaca anak-anak. Namun, keterampilan matematika hanya dipelajari ketika anak-anak berada di sekolah. Perbedaan tersebut juga terjadi sebelum anak-anak memasuki usia sekolah. Menurut peneliti, anak-anak yang lahir pada urutan akhir memiliki kinerja yang lebih buruk pada penilaian kognitif sejak usia dini, jauh sebelum mereka memasuki usia sekolah.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, periset meneliti 5.000 anak-anak lewat tes membaca dan menebak kosakata melalui gambar. Penilaian dilakukan setiap dua tahun hingga semua peserta riset mencapai usia 14 tahun. Lalu, apa yang membuat perbedaan ini terjadi? Berdasarkan riset, kesenjangan ini berawal dari perbedaan tingkat perhatian orangtua. Semakin banyak saudara kandung yang dimiliki, semakin sedikit perhatian yang didapat oleh seorang anak. Inilah yang akhirnya berimbas pada kemampuan akademik seorang anak.

Riset ini juga menunjukkan, para orangtua tidak bisa memberikan tingkat dukungan kognitif yang sama seperti yang diberikan kepada anak sulung. Hal ini dapat terjadi walaupun anak-anak mereka tidak memiliki ‘kelainan’ dalam kesehatan atau perkembangan mereka. Anak pertama menerima lebih banyak rangsangan mental pada tahun pertama mereka lahir. Karena itulah, perkembangan fungsi otak mereka lebih baik daripada adik-adiknya.

Periset menyarankan kepada orangtua agar lebih ‘rileks’ dalam mendidik anak-anak mereka yang lahir setelah anak sulung. Semakin banyak anak yang dimiliki, memang sulit untuk menyeimbangkan semua tanggungjawab sebagai orangtua. Ini juga terhadi karena keterbatasan waktu para orangtua dalam mendampingi anak-anaknya.

Kesimpulan riset ini ialah perubahan sikap dan perilaku dalam pola pengasuhan dapat membuat anak-anak yang lahir setelah anak pertama akan memiliki perkembangan kognitif dan prestasi akademik yang rendah. Efek ini akan tetap terasa hingga mereka dewasa. (*)

Ternyata, Plastik Pembungkus Makanan Bisa Terserap hingga ke Usus !

Edupost.id – Belum lama ini para peneliti menyingkap sebuah penemuan yang mencengangkan dunia. Ternyata plastik pembungkus makanan atau minuman bisa terserap ke dalam tubuh manusia. Dalam uji risetnya, peneliti menemukan adanya mikroplastik dalam tinja atau feses manusia. Bagaimana ini bisa terjadi ?

Temuan ini dipresentasikan dalam pertemuan United European Gastroenterology di Vienna, (22/10). Sampel tinja yang diamati berasal dari 8 orang peserta uji internasional yang berasal dari Austria, Italia, Finlandia, Jepang, Belanda, Polandia, Rusia, dan Inggris. Hasilnya cukup mengejutkan para peneliti. Dalam semua sampel tersebut terdapat partikel dan serat plastik.

Responden dalam penelitian ini harus mencatat apa saja yang mereka makan selama seminggu sebelum memberikan sampel tinja untuk pengujian. Catatan ini memberikan informasi tentang sumber-sumber potensial dari plastik dalam kotoran mereka.

Setidaknya catatan ini menyebutkan bahwa dua dari delapan peserta mengunyah permen karet setiap hari. Enam orang makan pangan dari laut. Selama seminggu, semua peserta mengonsumsi makanan yang telah dibungkus plastik. Rata-rata, peserta juga minum sekitar 25 ons air setiap hari dari botol yang terbuat dari polyethylene terephthalate (PET).

Penemuan ini menguatkan penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya mikroplastik dalam air minum, garam meja, hingga seafood.  “Plastik meresap dalam kehidupan sehari-hari dan manusia terpapar plastik dalam berbagai cara,” ulas Philipp Schwable, pemimpin penelitian ini dikutip dari Wired, (22/10.

Para peneliti mengidentifikasi adanya plastik dengan metode yang disebut Fourier-transform infrared microspectroscopy. Dengan metode tersebut, para peneliti menemukan bahwa dalam tinja para peserta ditemukan polietilena (bahan kantong plastik), polypropylene (bahan tutup botol), hingga polivinil klorida (PVC). Bahkan, dari sepuluh jenis plastik yang dicari peneliti, 9 di antaranya terdapat dalam tinja para peserta. Rata-rata, para peneliti menemukan 20 partikel mikroplastik per 100 gram kotoran.

Dilansir dari National Geographic, Senin (22/10), ukuran partikel plastik yang ditemukan dalam tinja tersebut bervariasi, mulai dari 50 hingga 500 mikrometer. Sebagai perbandingan, rambut manusia setebal 100 mikrometer.

“(Penelitian ini) menegaskan apa yang telah lama kita duga, bahwa plastik pada akhirnya mencapai usus manusia,” kata Schwable diwartakan dari Live Science, (22/10).

Dengan temuan ini Schwable berharap bisa mendorong penelitian lain terkait efek mikroplastik terhadap kesehatan manusia. “Sekarang kita memiliki bukti pertama untuk mikroplastik di dalam tubuh manusia, kita perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami apa artinya bagi kesehatan manusia,” jelas gastroenterologist, ahli sistem pencernaan manusia dari Medical University of Vienna itu. (*)

Ribuan Guru Honorer di Cianjur Lanjutkan Aksi Mogok hingga Pekan Depan

Edupost.id – Ribuan guru honorer di Cianjur, Jawa Barat mengaku akan menggelar aksi mogok hingga pekan depan. Para guru honorer ini akan terus mogok mengajar hingga tuntutan mereka dikabulkan Pemkab Cianjur.

“Aksi mogok ini tidak berakhir pekan ini, tetapi akan terus berlanjut di pekan depan, selama tuntutan kami tidak dikabulkan,” ujar Ketua Forum Honorer Cianjur, Magfur, di Cianjur,(19/10) , seperti dilansir Antara.

Para guru honorer tersebut datang dari 10 kecamatan di Cianjur selama beberapa hari terakhir ini. Namun, hingga saat ini dinas terkait di Pemkab Cianjur, belum merespon aksi tersebut. Bahkan kejelasan tuntutan mereka terkait legalitas berupa pemberian Surat Keputusan (SK), hingga saat ini belum mendapat titik terang sesuai janji Pemkab Cianjur.

Magfur mengungkapkan, pihaknya sempat menanyakan terkait sejauh mana SK tersebut diproses, namun tidak ada kepastian yang diberikan Pemkab Cianjur. “Saat pertemuan pada September 2018, disepakati dalam 15 hari atau sampai 15 Oktober 2018 sudah harus selesai. Minimalnya memberikan kejelasan prosesnya sejauh mana,” tandasnya.

Akibat aksi mogok tersebut, proses belajar mengajar di 10 kecamatan berjalan tidak maksimal. Sebagian besar siswa hanya bermain di dalam maupun di luar kelas. Hal tersebut seperti yang disampaikan Kepala SDN Ciseureuh, Kecamatan Sindangbarang, Subarjah yang merasa berat karena harus memberikan pelajaran bagi ratusan siswa dari seluruh kelas padahal hanya ada dua orang guru.

“Baru beberapa hari saja kami dan orang tua murid sudah resah karena selama ini, hanya dua guru PNS salah satunya saya. Kami kewalahan harus memberikan materi untuk enam kelas,” ucapnya.

Namun, dia tidak dapat melarang aksi mogok yang dilakukan guru honorer tersebut karena pihak sekolah belum bisa memberikan kesejahteraan pada guru sukwan dan honorer. (*)

Skema PPDB yang Baru Ditargetkan Selesai Desember 2018

Edupost.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kini tengah menggodok pedoman skema penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang akan diterapkan tahun depan. Pedoman tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2018.

“Belum, paling lambat akhir desember (selesai),” ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad seperti dilansir Antara.

Hamid menerangkan, sistem zonasi telah diimplementasikan secara bertahap sejak tahun 2016 yang diawali dengan penggunaan zonasi untuk penyelenggaraan ujian nasional. Berlanjut tahun 2017 sistem zonasi untuk pertama kalinya diterapkan dalam PPDB, dan saat ini Kemendikbud akan terus menyempurnakan aturan zonasi tersebut.

Harapannya pemanfaatan zonasi dapat diperluas untuk pemenuhan sarana. Kemudian, lanjut Hamid, zonasi dapat dimanfaatkan untuk redistribusi dan pembinaan guru serta pembinaan kesiswaan.

Sebelumnya, Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan pedoman skema PPDB yang baru akan mengatur sistem PPDB hingga sistem mutasi yang berdasar pada zonasi. Menurutnya, pedoman tersebut akan mengalami banyak perubahan dari aturan PPDB yang sebelumnya. (*)

Ini Daftar Universitas Terbaik ASEAN 2018, Indonesia Posisi ke Berapa?

Edupost.id – QS World Univerisity Ranking telah merilis pemeringkatan universitas terbaik di Asia untuk tahun 2018 – 2019. Negara-negara Asia Tenggara tergabung dalam ASEAN (Association of Southeast Asian Nations); Thailand, Vietnam, Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Myanmar (Birma), Kamboja, Laos, dan Brunei berhasil memasukkan 42 universitas terbaik mereka. Di mana posisi Indonesia ?

Berikut pemeringkatan 10 universitas terbaik di ASEAN:

1. National University of Singapore (NUS), Singapura (urutan 11 dunia)

2. Nanyang Technological University (NTU), Singapura (urutan 12 dunia)

3. Universiti Malaya (UM), Malaysia, (urutan 87 dunia)

4. Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Malaysia (urutan 184 dunia)

5. Universiti Putra Malaysia (UPM), Malaysia (urutan 202 dunia)

6. Universiti Sains Malaysia (USM), Malaysia (urutan 207 dunia)

7. Universiti Teknologi Malaysia, Malaysia (urutan 228 dunia)

8. Chulalongkorn University, Thailand (urutan 271 dunia)

9. Universitas Indonesia (UI), Indonesia (urutan 292 dunia)

10. Universiti Brunei Darussalam (UBD), Brunei (urutan 323 dunia)

Di samping Universitas Indonesia (UI), beberapa universitas lain juga masuk dalam pemeringkatan yang dirilis QS World University Ranking yakni:

Institut Teknologi Bandung (ITB): peringkat 11 ASEAN dan 359 dunia.

Universitas Gadjah Mada (UGM): peringkat 14 ASEAN dan 391 dunia.

Universitas Padjajaran (Unpad): peringkat 25 ASEAN dan 651 – 700 dunia.

Institut Pertanian Bogor (IPB): peringkat 26 ASEAN dan 651 – 700 dunia.

Universitas Airlangga (Unair): peringkat 29 ASEAN dan 751 – 800 dunia.

Universitas Diponegoro (Undip): peringkat 32 ASEAN dan 801 – 1000 dunia.

Institut Teknologi Sepuluh November (ITS): peringkat 38 ASEAN dan 801 – 1000 dunia.

Universitas Brawijaya (UB): peringkat 39 ASEAN dan 801 – 1000 dunia.

QS World University Ranking menggunakan 6 indikator penting dalam pemeringkatan yaitu: Reputasi Akademik, Reputasi Lulusan, Rasio Fakultas dan Mahasiswa, Kutipan Jurnal Ilmiah, Fakultas Internasional dan Mahasiswa Internasional. (*)

Recent Posts

Recent Posts

=[Tutup Klik 2x]=